| 01.10.2011 10:27 | Penulis : Janine Helga Warokka* Belanda tak hanya terkenal dengan bunga tulip, tetapi juga terkenal dengan kincir anginnya. Kincir angin merupakan warisan budaya yang memesona bangsa lain, sehingga menjadi ikon Belanda dan Belanda dijuluki Negeri Kincir Angin.
 (foto:dok/ist) Orang Indonesia sangat kenal dengan ikon kincir angin Belanda karena sebuah toko roti terkemuka di Indonesia menggunakan nama negara tersebut dengan ikon kincir angin di atas bangunan tokonya. Menemukan kincir angin di negara asalnya, Belanda, sesungguhnya tidak sulit karena bangunan khas kincir angin yang sudah ada di Belanda sejak ratusan tahun yang lalu ini masih banyak tersebar di seluruh wilayah Belanda. Kincir angin pada awal keberadaannya di Belanda sekitar abad ke-13 berfungsi mendorong air ke laut agar terbentuk daratan baru yang lebih luas (polder), mengingat letak dataran Belanda yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Dengan perkembangan teknologi, sekitar abad ke-17 kincir angin digunakan juga sebagai sarana pembantu di bidang pertanian dan industri seperti untuk memproduksi kertas, mengasah kayu, mengeluarkan minyak dari biji, dan menggiling jagung. Jumlah kincir angin beberapa abad lalu sekitar 10.000 kincir angin dan sekarang kurang lebih 1.000 kincir angin. Sebagian kincir angin yang ada sekarang masih berfungsi serta menjadi objek wisata yang sangat menarik. Setiap orang yang pernah berkunjung ke Belanda sudah bisa dipastikan akan mencari kincir angin. Kebanyakan kincir angin yang tersebar di seluruh wilayah Belanda sekarang hanya berdiri sendiri (satu bangunan) di suatu lokasi daerah. Sementara itu, yang merupakan kumpulan kincir angin ada di dua tempat dan sudah menjadi objek wisata yang terpopuler di Belanda, yaitu kawasan wisata yang dilestarikan dan dilindungi, Zaanse Schans di Provinsi Belanda Utara (Province North Holland) dan Kinderdijk di Provinsi Belanda Selatan (Province South Holland). Kumpulan kincir angin di kawasan wisata Zaanse Schans tampaknya belum banyak dikenal warga Indonesia yang berkunjung ke Belanda. Padahal lokasi tempat wisata itu hanya 30 menit perjalanan dengan mobil, bus atau kereta api dari Bandara Schiphol Amsterdam atau 15 menit dari Centrum Amsterdam. Jarang orang Indonesia yang membicarakan keindahan objek wisata di Zaanse Schans, terutama pemandangan kincir angin yang terletak berjajar di pinggiran sungai yang besar dan di tengah hamparan daerah pertanian yang hijau serta rumah-rumah tradisional Belanda. Berkunjung ke kawasan wisata Zaanse Schans seyogianya tidak dilewatkan saat mengunjungi Belanda, karena lokasinya tidak jauh dari Amsterdam, terutama saat udara tidak dingin, khususnya pada musim panas. Mengunjungi kawasan wisata Zaanse Schans yang dilestarikan ini selain menambah pengetahuan tentang fungsi kincir angin juga akan mengenal sekaligus menikmati keindahan daerah yang mempresentasikan cara hidup orang Belanda abad ke-17 dan ke-18, atau dikenal juga sebagai Open Air Museum. Wisatawan bisa menikmatinya dengan berjalan kaki di sepanjang tepi Sungai Zaan, mengunjungi berbagai objek wisata di kawasan tersebut. Menaiki kapal wisata menyusuri sungai (rondvaart) juga merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga yang hanya ada di Negeri Kincir Angin ini. Kawasan wisata Zaanse Schans terletak di wilayah pemerintahan Zaanstad yang ibu kotanya di Zaandam dan terkenal juga sebagai kota industri pertama di Eropa. Kawasan wisata Zaanse Schan berada di kota Zaandijk yang berdekatan dengan Zaandam. Setiba di Zaandijk setelah menggunakan transportasi kereta api yang berhenti di Stasiun Koog aan de Zaan akan terlihat Sungai Zaan yang besar dan banyaknya kincir angin dengan aneka bentuk dan ukuran besar maupun kecil. Kemudian kita akan menghirup bau cokelat yang sangat tajam dari suatu pabrik cokelat yang juga sudah berumur ratusan tahun. Sebelum tiba di kawasan wisata Zaanse Schans kita akan melewati permukiman yang sebagian besar rumahnya masih berasitektur kuno (Oud Zaandijk), kemudian menyeberangi jembatan yang sangat modern, di mana salah satu bagian jalan jembatan akan terangkat ke atas apabila kapal laut yang berukuran besar akan melewati bawah jembatan. Memasuki kawasan wisata Zaanse Schans tidak dipungut biaya dan langsung akan terlihat bangunan rumah kayu tradisional Belanda yang sudah berumur ratusan tahun (Zaanse Huisjes). Arsitektur rumah ini unik khas Belanda, dengan sebagian besar dinding rumah kayunya berwarna hijau, yang merupakan ciri khas rumah warga di wilayah Zaandstad. Di pinggiran Sungai Zaan di kawasan wisata yang dilestarikan ini terdapat kumpulan kincir angin yang bentuknya beraneka ragam dan setiap kincir angin itu mempunyai fungsinya masing-masing. Di sini bisa dilihat cara kerja kincir angin, baik untuk keperluan mengeringkan lahan maupun keperluan industri dan pertanian. Di sepanjang Sungai Zaan dahulunya ada ribuan kincir angin. Sekarang di kawasan Zaanse Schans tinggal enam kincir angin, yaitu De Huisman (pembuatan makanan saus mustar), De Kat (pembuatan cat), De Gekroonde Poelenburg & Jonge Schaap (penggergajian kayu), De Zoeker & De Bonte Hen (pembuatan minyak). Dua kincir angin yang kecil adalah De Windhond (pengasah batu) dan ada pula De Hadel (menguras air). Kincir-kincir angin ini pada musim dingin hanya dibuka untuk umum pada akhir pekan saja, sesuai perjanjian, kecuali Jonge Schaap yang buka setiap hari. Untuk masuk ke dalam kincir angin dan melihat aktivitas dalam kincir angin akan dikenakan biaya. Sesungguhnya masih ada lagi kincir angin di luar wilayah kawasan wisata yang dilestarikan. Jumlahnya puluhan di wilayah Zaanstad ini. Museum Di kawasan wisata ini terdapat beberapa museum yang mempresentasikan kehidupan masa lalu orang Belanda abad ke-17 dan ke-18, khususnya di wilayah Belanda Utara. Museum Zaans menyimpan koleksi artefak dan lukisan mengenai kehidupan orang Belanda ratusan tahun lalu. Museum yang lebih kecil di wilayah ini terkait dengan perusahaan-perusahaan ternama yang awalnya berdiri di Zaandam, seperti Verkade Paviljoen (produsen makanan cokelat dan kue), museum dari supermarket tertua dan terbesar di Belanda saat ini, yaitu Alberthijn yang berdiri pada 1887, Het Nederlandse Uurwerk (museum jam), dan Bakkerij museum in de Gecroonde Duyvekater (museum pembuatan roti dan kue) . Museum Kincir Angin juga bisa dilihat, tetapi terletak di Koog aan de Zaan saat berjalan memasuki Zaandijk. Yang menarik pula di kawasan wisata Zaanse Schans adalah produk tradisional Belanda lainnya, yaitu pabrik pembuatan keju sekaligus toko penjualan keju (De Catherine Hoeve) dan pabrik pembuatan sepatu kayu bakiak/klompen (the Wooden Shoe Workshop the Zaanse Schans) yang tidak dipungut biaya masuk. Klompen yang dibuat bentuknya unik dan lucu, ada yang diukir, klompen sepatu roda, dan klompen ketawa. Ada juga pabrik kerajinan tembaga (The Coopery) dan perak yang sudah ada sejak ratusan tahun pula (The Tinkoepel). Salah satu obyek wisata yang baru di Zaanse Schans adalah Museum Penyulingan Minuman yang memperlihatkan proses penyulingan 150 tahun yang lalu, tentunya pengunjung dapat mencicipi pula. Untuk kenyamanan wisatawan tersedia pula toko-toko cenderamata (Vrede Souvenirs & Gift, Souvenirs & Diamonds ‘Saense Lelie’), toko barang-barang antik dan unik (Het Jagershuis). Melengkapi kenyamanan berwisata di kawasan ini tersedia beberapa restoran dengan interior dan juga makanan khas Belanda, di antaranya yang menyediakan kue tradisional Belanda “pannekoek” (pancake) berukuran diameter 29 cm yang bisa dinikmati di Restoran De Kraai. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini dari berbagai penjuru dunia mengakui kincir angin merupakan bangunan tradisional yang bentuknya sangat unik, sehingga terlihat memesona. Mereka juga menjadi lebih kagum karena ternyata kincir angin itu mempunyai fungsi yang sangat berarti bagi kehidupan orang Belanda dahulu dan sekarang. Saat ini kincir angin sudah menjadi objek wisata yang sangat menarik jika kita lebih mengenalnya bersama dengan warisan budaya lainnya yang ada di Zaanse Schans. *Penulis adalah penikmat wisata. sumber: http://www.sinarharapan.co.id/content/read/kincir-angin-dan-kehidupan-di-zaanse-schans/
|